Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2016

BUKU: Kuliah Jurusan Teknik Sipil







BUKU APA?
Buku ini adalah salah satu buku dari seri “Kuliah Jurusan Apa?” yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Target pembaca yang ingin disentuh adalah para siswa SMP/SMA dan para orang tua yang ingin mengetahui lebih banyak tentang jurusan Teknik Sipil di perguruan tinga dan kesempatan kerjanya.

Setelah membaca buku ini diharapkan para siswa akan lebih mantap menjadikan jurusan Teknik Sipil sebagai jurusan yang akan dipilih di perguruan tinggi.
Sedangkan bagi orang tua, akan semakin mendukung langkah putra-putrinya dalam menggapai masa depan.


MENGAPA JURUSAN TEKNIK SIPIL?
Ya, jurusan teknik sipil adalah salah satu jurusan yang masih banyak peminatnya di perguruan tinggi. Tentu persaingan di setiap perguruan tinggi yang memiliki fakultas teknik jurusan teknik sipil akan menjadi sangat ketat. Baik sebelum maupun setelah diterima menjadi mahasiswa jurusan teknik.

Mengingat penulis adalah lulusan dari jurusan teknik sipil juga, maka diputuskan untuk membagikan pengalaman yang pernah penulis lihat, dengar dan rasakan kepada para pembaca. Menjadi hal yang sedikit lebih mudah bagi penulis untuk menceritakan, menjelaskan dan menuangkan pengalamannya dalam bentuk tulisan yang diharapkan bisa bermanfaat bagi pembaca.


APA ISINYA?
Buku ini membahas segala hal yang berkaitan dengan kuliah di jurusan teknik sipil secara lengkap.
Bahasan itu meliputi:

Daftar isi
Kata Pengantar
Bab 1       Mengenal Jurusan teknik Sipil
Bab 2       Persiapan Akademis
Bab 3       Persiapan Mental
Bab 4       Prospek Kerja
Bab5        Peluang Karier di Luar Negeri
Bab6        Tips dan Trik Menembus Jurusan Teknik Sipil
Bab7        Pertimbangan Memilih Perguruan Tinggi
Bab8        Daftar Jurusan Teknik Sipil di Perguruan Tinggi Negeri
Bab9        Sukses Menjadi Mahasiswa  Teknik Sipil
Bab10      Tokoh Dunia dengan Gelar Insinyur Teknik Sipil
Daftar Pustaka
Profil Penulis


DETAILNYA BAGAIMANA?
Selain menjelaskan bagaimana pentingnya ilmu teknik sipil dalam kehidupan sehari-hari bahkan dalam sebuah peradaban, buku ini juga menjelaskan perbedaan antara teknik sipil dan teknik arsitektur yang terkadang masih membingungkan perannya. Kemudian dijelaskan pula posisi teknik sipil di sebuah perguruan tinggi serta cabang-cabang ilmu teknik sipil yang bisa dipilih sebagai spesialisasi ilmu.

Ada juga bahasan tentang persiapan bagi calon mahasiswa teknik sipil. Ditambah dengan penjelasan mengenai mata kuliah-mata kuliah yang akan dipelajari di bangku kuliah jurusan teknik sipil secara mendetail.

Di bab 4 membeberkan tentang lapngan kerja, jenjang karir di sebuah perusahaan kontraktor serta lapangan kerja yang bisa diisi oleh lulusan teknik sipil baik laki-laki maupun perempuan. 
Sedangkan bab 5 khusus membahas tentang peluang lulusan teknik sipil untuk berkarir di luar negeri.

Tips dan trik  adalah kiat-kiat dalam belajar untuk mengikuti tes dan membandingkan daya tampung dan calon pendaftar pada tahun-tahun sebelumnya. Ada pula kiat-kiat sukses menjadi mahasiswa teknik sipil.


KURANG LENGKAP?
Selain penjelasan yang padat, di dalam buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto dan data-data yang menunjang sebagai gambaran lengkap bagi pembaca.


SPESIFIKASI BUKU
Penerbit                    : Gramedia Pustaka Utama
Halaman                  : 98 halaman
Harga                        : Rp29.750,00

PROFIL PENULIS

Utari Giri adalah seorang penulis dengan latar belakang sarjana teknik sipil dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Sejak tahun 2011 hingga saat ini bermukim di Dubai, Uni Emirat Arab mengikuti tugas suaminya yang juga seorang sarjana teknik sipil. Penulis dapat dihubungi di email utarigiri@yahoo.com

Senin, 09 Maret 2015

Vegetarian (?)



Sejak memutuskan untuk hidup berumah tangga, aku dan suamiku sepakat untuk mengurangi mengonsumsi daging merah. Baru satu tahun kemudian, kami benar-benar bisa melepaskan konsumsi daging yang berasal dari hewan berkaki empat ini.

Bukan untuk gaya-gayaan. Bukan pula karena kami mengikuti aliran tertentu. Semua kami lakukan hanya karena kami ingin hidup lebih sehat. Tidak lebih. Bahkan, awalnya kami juga tidak tahu jika ternyata banyak manfaat lain dari pola makan ini. Semua itu kami anggap sebagai bonus.

Sebenarnya aku tidak pernah menyebut keluargaku sebagai vegetarian. Kenapa? Karena, bagiku kelompok vegetarian adalah mereka yang sama sekali tidak boleh makan daging, meskipun ada beberapa golongan dalam kelompok ini. Ada golongan yang tidak makan daging dari hewan berkaki empat. Golongan lain tidak makan hewan sama sekali atau bahkan ada yang tidak makan hewan dan makanan turunannya, seperti susu, telur dan keju. Jika makanan mereka mengandung daging sedikit saja, entah itu hanya kuah atau penyedapnya, itu sudah melanggar aturan.

Sementara aku dan keluargaku? Meskipun belum tentu setahun atau dua tahun sekali dan dalam jumlah yang sangat kecil, tetapi terkadang kami makan daging juga walaupun itu hanya kami batasi untuk daging kambing saja. Karena itulah aku enggan menyebut keluargaku sebagai vegetarian, meskipun beberapa teman menyebut kami demikian.

Jadi, sudah hampir enambelas tahun, menu hewani yang ada meja makanku adalah ayam, ikan dan telor. Sementara makanan nabati justru menjadi menu utama kami. Tentu saja ini juga berlaku untuk kedua anakku yang sekarang berusia 16 dan 10 tahun.

Bukan tidak pernah kami mendapat pertanyaan-pertanyaan ataupun olok-olokan dari teman dan kerabat tentang kebiasaan kami ini. Tetapi tentu saja kami tidak terlalu mempermasalahkannya. Selama ini kami masih bisa memakluminya.

Pertanyaan terakhir yang baru beberapa hari lalu terjadi, dilontarkan oleh teman anak gadisku. Mereka tidak bisa percaya jika pada kenyataannya keluarga kami tidak pernah mengonsumsi daging merah. Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana anakku bisa pintar kalau dia tidak pernah makan daging?

Anak gadisku hanya tersenyum jika ada yang bertanya demikian. Karena aku sudah pernah menjelaskan padanya jika gizi yang ada di daging itu juga bisa kami dapatkan dari sumber makanan yang lain. Dan, yang paling mudah dipahami adalah ketika kami membaca sebuah buku yang menyebutkan bahwa ternyata ilmuwan sekelas Albert Einstein, Sacrotes dan Thomas Alfa Edison adalah para pelaku vegetarian juga. Jadi, bukan berarti anak vegetarian tidak bisa pandai, kan?

Jumat, 19 Juli 2013

Fotocopilah Surat-surat Berharga




Siapa yang tidak memiliki surat berharga di rumahnya. Akta kelahiran, surat tanda tamat belajar atau  akta pernikahan, paling tidak surat-surat tersebut pasti dimiliki oleh setiap keluarga. Namun terkadang surat-surat tersebut hilang, baik karena kecerobohan kita sendiri maupun orang lain. Terutama surat-surat yang sering kita simpan dalam dompet seperti KTP, SIM maupun STNK.  Tak terbayang bagaimana paniknya kita jika hal tersebut terjadi.

Untuk keamanannya, tidak ada salahnya kita membuat satu berkas yang menyimpan fotokopi surat-surat berharga tersebut baik yang tersimpan di rumah maupun yang ada di dalam dompet. Ini sangat berguna seandainya surat-surat hilang dan kita harus mengurus ulang.

Dengan adanya fotokopi maka pengurusan surat yang hilang akan semakin mudah. Jika memungkinkan kita juga bisa menitipkan satu berkas fotokopi surat-surat berharga pada orang tua atau keluarga yang bisa dipercaya. Karena jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan dengan rumah yang kita tempati yang menyebabkan hilangnya surat-surat tersebut, kita masih menyimpan berkas  fotokopinya di keluarga kita. 

Dimuat di rubrik Gagasan, Koran Jawa Pos, 28 Desember 2012

Lebih Baik Tidur Dalam Gelap





Kebanyakan anak-anak akan merasa takut jika saat tidur lampu dikamarnya dipadamkan. Sayangnya, banyak orang tua yang dengan ikhlas menuruti permintaan anaknya untuk tidur dengan lampu tetap menyala. Alasannya sangat sederhana, tidak apa-apa lampu menyala yang penting anak berani tidur sendiri. Dan biasanya kebiasaan ini akan terbawa terus sampai si anak dewasa. Bukan karena rasa takut lagi, tetapi lebih karena masalah kebiasaan dan ini susah untuk diubah.

Namun tidak ada salahnya jika mulai sekarang  kita belajar membiasakan diri untuk tidur dengan kondisi lampu padam atau tidur dalam gelap. Mengapa? Karena menurut penelitian para ahli, saat malam tubuh kita akan menghasilkan hormon melatonin pada kondisi gelap. Bahkan  setitik cahaya saja dapat merusak produksi melatonin tersebut. Hormon melatonin adalah hormon yang dalam sistem kekebalan mampu memerangi dan mencegah berbagai penyakit termasuk kanker payudara dan prostat.

Selain itu, tidur dalam keadaan gelap akan membantu aktivitas tidur lebih cepat terlelap. Karena sekeliling gelap, jadi mau tidak mau mata kita akan terpejam. Inilah yang mempercepat proses tidur kita.  Dan yang tidak kalah penting adalah penghematan energi listrik. Coba bayangkan jika dalam satu rumah terdapat minimal 2 kamar tidur. Berapa banyak energi listrik yang dapat dihemat dalam satu kota, propinsi dan negara setiap malamnya?

Jadi, jangan ragu-ragu lagi untuk mematikan lampu saat kita tidur di malam hari. Sehat dan hemat itulah alasan utamanya.

Dimuat di Rubrik Gagasan, Koran Jawa Pos, 13 Desember 2012

Rabu, 17 Juli 2013

Menulis Menjadi Gaya Hidup Perempuan


Dimuat di Tabloid Potret No. 65|Pebruari 2013



Sekarang ini semakin banyak ibu-ibu yang menyadari arti pentingnya merawat dan mendidik anak dengan kelembutan tangannya sendiri. Semua terjadi karena semakin luasnya pengetahuan para ibu tentang tumbuh kembang dan masa-masa emas dari seorang anak. Bahkan terkadang tak dapat ditukar dengan materi jika harus kehilangan momen-momen penting dalam  perkembangan anak. Maka tidak mengherankan jika akhirnya banyak perempuan yang tadinya bekerja di kantoran memutuskan untuk meninggalkan karir demi si buah hatinya.

Noda Dalam Perjuangan Perempuan Indonesia


Dimuat di Tabloid Potret No. 64|Januari 2013



Tak dapat dipungkiri lagi jika perempuan Indonesia saat ini sudah dapat disandingkan dengan lawan jenisnya dalam berbagai bidang. Sarjana perempuan hampir merata tersebar diseluruh penjuru tanah air. Dokter, insinyur, guru ataupun profesi yang lain yang disandang kaum perempuan sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Bahkan dalam jajaran Pemerintahanpun perempuan sudah bisa memberikan andil baktinya.


Sejarah Indonesia  telah mengukir beberapa nama perempuan yang pernah menjabat sebagai bupati, menteri  bahkan juga presiden perempuan. Tak terkira betapa bahagianya R.A Kartini jika beliau dapat menyaksikan hasil perjuangannya dulu. Cita-citanya tentang emansipasi rasanya sudah terwujud, meskipun  masih banyak lagi hak-hak perempuan yang tetap harus diperjuangkan.

Jadilah Orang Tua Cerdas dan Siaga


Dimuat di Tabloid Potret No. 63|Desember 2012



Tidak diragukan lagi jika ungkapan “internet adalah jendela dunia” nampaknya benar adanya. Dengan internet orang bisa dengan mudah mencari informasi apa saja yang mereka butuhkan. Tidak hanya di Indonesia, internet kini sudah merambah seluruh masyarakat di dunia. Berteman dengan banyak orang bahkan dengan orang yang berada di belahan  bumi yang lain pun bukan suatu yang mustahil lagi.

Namun begitu ternyata internet tidak hanya berdampak positif bagi masyarakat.  Harus disadari pula jika tren kejahatan akhir-akhir ini adalah kejahatan yang berbasis teknologi informasi, yaitu melalui internet. Banyaknya penipuan, penculikan dan kejahatan seksual di kalangan remaja putri maupun anak-anak serta perdagangan manusia juga disinyalir merupakan dampak dari majunya teknologi informasi ini.

Ketika Anak Hamil diluar Nikah


Dimuat di Tabloid Potret No. 62|Nopemeber 2012



Akhir-akhir ini semakin sering kita mendengar berita tentang  pergaulan bebas remaja  di kota- kota  besar. Dan entah mengapa berita–berita seperti itu tetap saja disiarkan oleh televisi di Indonesia. Karena sepertinya memang tak ada manfaatnya menyiarkan hal tersebut, justru sebaliknya dapat mempengaruhi remaja–remaja di daerah untuk meniru. Dan tak dapat dipungkiri, inilah pangkal  yang membuat kasus hamil diluar nikah naik semakin tajam dari waktu ke waktu. Akibat tidak adanya rambu–rambu dalam pergaulan sehingga mengakibatkan hal–hal yang hanya akan menghasilkan penyesalan semata.

Senin, 15 Juli 2013

Bahasa Indonesia Kini Jadi yang Kedua

Anak-anak lebih mudah beradaptasi


     “Pindah ke luar negeri? Wah, pasti nanti anaknya lupa bahasa Indonesia".
    
     Itulah yang terucap dari para sanak saudara dan teman–teman  ketika saya sampaikan rencana pindah keluarga saya. Awalnya saya tidak mengerti arti ucapan tersebut, atau saya hanya menganggapnya sebagai basa–basi belaka. Karena sejujurnya tidak ada kekhawatiran sama sekali anak–anak saya akan lupa berbahasa Indonesia, justru kekhawatiran yang ada adalah anak–anak saya tidak bisa mengikuti pelajaran di tempat baru karena bahasa Inggrinya yang pas–pasan. Meskipun akhirnya kekhawatiran saya tidak terbukti, karena ternyata anak–anak lebih cepat beradaptasi dalam hal bahasa.