Jumat, 18 Juli 2014

Mudik yang (tak lagi) Tertunda


Sudah hampir tiga tahun aku meninggalkan tanah air untuk menemani suami yang bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab. Selama waktu itu pula aku belum pernah lagi menjejakkan kaki di tanah pertiwi. Bukan tidak ingin, tetapi berbagai kendala selalu berhasil menggagalkan niat itu.

Tujuh bulan pertama sejak kedatanganku, Dubai sedang musim panas dan bertepatan dengan liburan panjang sekolah. Sebenarnya saat itu sudah ada keinginan untuk pulang menengok orang tua, sebelum kemudian –entah siapa yang memulai- kami memutuskan untuk berlibur ke Istanbul, Turki. Alasannya adalah karena rasanya baru kemarin kami datang sehingga rasa rindu belum terlalu mendalam. Kami memastikan bahwa tahun depan adalah waktu yang pas untuk kami mudik.

Setelah setahun menunggu musim panas kembali datang, rencana untuk berlibur ke tanah air pun kami rancang. Aku bahkan sudah membuat jadwal pasti kapan kami akan berangkat serta destinasi  mana saja yang akan kami kunjungi untuk mengisi liburan ini. Kami, terutama kedua anakku sangat bersemangat.

Namun rencana tinggal rencana. Suamiku tidak bisa meninggalkan pekerjaannya karena proyek baru yang ditanganinya. Kecewa sudah pasti. Tetapi paling tidak aku masih bisa bersyukur karena aku belum sempat memesan tiket pesawat sebelum berita pahit itu datang.

Sebenarnya suami sudah mempersilakan aku dan anak-anak untuk pulang sendiri ke Indonesia guna mengisi liburan. Tetapi anak-anak ternyata menolak. Mereka merasa kurang seru jika liburan tanpa ayahnya. Apalagi aku. Mana mungkin aku tega meninggalkan suami sendirian, bekerja membanting tulang sementara aku enak-enakan menikmati liburan.

Untuk mengobati rasa kecewa anak-anakku, maka menjelang musim dingin kami mengajak mereka berlibur ke Muscat, Oman. Meskipun hanya empat hari, paling tidak mereka sudah merasa terhibur. Selain itu suamiku juga tidak lagi merasa terlalu bersalah dengan kegagalan mudik ke Indonesia.


Menunggu penerbangan di Dubai International Airport

Akhirnya, setelah menunggu dua kali musim panas, mudik yang kami nantikan tak lagi tertunda. Sudah tidak terkira rasa rindu yang bergemuruh dalam dada kami terhadap sanak saudara dan kerabat. Semoga apa yang sudah kami rencanakan semuanya berjalan sesuai rencana, tak akan ada yang harus tertunda lagi.


Indonesia, kami datang…

Rabu, 25 September 2013

Aku dan Gadisku

Gadisku

Tepat sepuluh hari yang lalu anak pertamaku merayakan ulang tahunnya yang ke 15. Tak terasa memang…, mungkin karena selama limabelas tahun ini aku tidak pernah melepasnya barang sebentar saja. Sehingga perkembangan dan pertumbuhannya terlihat biasa saja di mataku.

Selasa, 27 Agustus 2013

Resensi Buku : Living Abroad


Storycake for your life: Living Abroad, Merasakan Hidup di Berbagai Negara


Judul Buku      : Storycake for your life, Living Abroad  
Penulis             : Nurul Asmayani, dkk.
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun              : 2013
ISBN               : 978-979-22-9558-0
Halaman          : ix+290 halaman


Sesuai dengan judulnya,  Storycake for your life: Living Abroad adalah sebuah buku yang merangkum berbagai kisah tentang para diaspora di berbagai belahan bumi.  Ditulis oleh 26 perempuan dalam 27 kisah yang mengalir dan enak di baca sebagai ciri dari buku-buku Storycake. Buku ini seolah ingin memberi gambaran, betapa sesungguhnya tinggal di negara lain tidak seperti bayangan kebanyakan  orang. Banyak suka duka bahkan butuh ekstra perjuangan untuk bisa menikmati dan merasa nyaman hidup jauh dari sanak keluarga di tanah air.

Minggu, 25 Agustus 2013

Gara-gara Kaos Cubuklu

Museum Leffter

Ini adalah hari kedelapan keluargaku berlibur di Istanbul. Setelah kemarin seharian kami habiskan di sebuah pulau yang bernama Prince Island atau Buyukada, maka hari ini kami sepakat akan pergi mengunjungi sebuah tempat  wisata yang berupa bukit kecil di pinggiran kota Istanbul. Pukul delapan pagi , kami sudah bersiap-siap untuk sarapan di sebelah lobi hotel. Kami sengaja mengenakan baju santai, celana jeans dan kaos, untuk mengurangi rasa panas di perjalanan.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Pohon Kurma...I'm in Love


Kurma??? Hmm, apa sih enaknya? Manisnya terlalu legit bahkan saking manisnya terkadang terselip rasa pahit di lidahku. Belum lagi daging buahnya yang lembek agak berserat, sangat menyiksa mulutku ketika mengunyahnya. Maka jangan heran jika  aku kurang suka dengan buah eksklusif ketika aku kecil itu.

Eksklusif?
Ya. Karena dulu waktu aku kecil buah gurun pasir ini masih sangat langka di Indonesia. Inilah yang  menyebabkan  harganya  mahal sehingga tak jarang orang menyebut kurma sebagai buah  mewah. Namun sekarang tidak lagi,  sudah sangat mudah menjumpainya di supermarket, pasar sampai pedagang kaki lima di pinggir jalan.

Minggu, 21 Juli 2013

Indahnya Tobat

Buku-4



            Perjuangan seorang sahabat dalam menemukan jalan tobat yang saya tulis dalam bentuk cerita, menjadi salah satu kisah di buku ini.

“Minta maaflah kepada perempuan itu,” terdengar suara menggelegar dari laki–laki itu seraya menunjuk seseorang yang sangat Banu kenal. Perempuan itu sedang terduduk bersimpuh di hadapan laki-laki besar yang satu lagi di ujung bukit. Dia mengenakan mukena putih berkilau, suaranya mengiba memohon agar orang–orang berbadan besar itu bersedia membebaskan Banu, suaminya. Ya, perempuan itu adalah Palupi yang terus memohon dalam tangisnya. Banu ingin berteriak memanggil Palupi dan mendekat, namun bibir dan tubuhnya terasa kaku.

Bagaimana kisah sebenarnya, bisa di baca dalam buku antologi Indahnya Tobat dengan judul Cambuk di Bukit Gersang.


Sabtu, 20 Juli 2013

Liburan Penuh Kreasi


Liburan adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh para siswa. Inilah waktu untuk sejenak mengistirahatkan anak-anak dari kejenuhan belajar. Tak terkecuali bagi kedua putriku.

Sasiva & Sattvika


Di Dubai, liburan kenaikan kelas selalu bersamaan dengan datangnya musim panas. Jadi bukan sebulan liburnya, tapi hampir tiga bulan. Inilah terkadang yang membuat jenuh anak-anak. Di minggu-minggu pertama memang sangat menyenangkan, tetapi perlahan tampak jika mereka mulai bosan